March 07, 2011

cerita Antiokhia

halo. nama saya antiokhia. tinggi 162 senti, tapi tidak pernah tahu berapa berat badan saya. orang-orang suka melihat rambut pendek saya yang menguning karena warna cat artifisial lalu mereka bilang saya sedang krisis identitas. saya akan jawab: "memang. who doesn't? semua orang kadang masih perlu mencari dimana mereka berpijak. Festina lente. To make a move slowly adalah nama lain dari evolusi yang berakar dari pencarian jati diri."

hari ini tidak hujan, tidak juga cerah. menyebalkan saat cuaca bahkan sama labilnya seperti saya. karena saya ingin semuanya bisa dijadikan model, stabilitas atau apapun yang bisa membuat saya yang labil ini merasa jauh lebih baik dari hari kemarin. mungkin saya harus belajar berhenti menyalahkan diri sendiri dan akan jauh lebih mudah menyalahkan orang lain, terutama mereka yang biasanya menerima kita apa adanya.

saya lupa apa yang terakhir benar-benar bisa membuat saya bersenandung. komposisi lagu-lagu yang ada di pasaran lokal akhir-akhir ini terlalu bisu untuk bisa bercerita bahwa apa yang mereka ciptakan itu bisa dinikmati hingga saya terkena ekstase.

ibu saya, seorang penjual guci kesepian yang ditinggalkan suaminya tiga tahun lalu sering menelepon saya tengah malam. dia hanya menghembuskan napasnya perlahan sambil menyebut nama saya berkali-kali, hingga akhirnya dia tertidur dengan telepon dalam genggamannya. saya, seperti sang ibu, juga kadang melakukan hal yang sama.
satu kali, dua kali, empat belas kali, lalu kekasih saya pergi berselingkuh dengan lelaki lain. dia bilang dia muak. dia bilang dia tidak suka bau tubuh saya yang mirip ayam goreng kalasan. dia bilang dia lebih suka mabuk-mabukan daripada terima telepon dari saya.

kini, saya semakin suka meneleponnya. mendengar teriakan histerianya yang sambil berkata supaya saya berhenti mengganggunya. tapi saya semakin suka bermain-main dengannya. semakin. semakin. semakin. dan semakin.

No comments: