March 10, 2011

Angin dan Antiokhia

Antiokhia punya teman dekat. dia bernama Angin. mereka biasa tertawa bersama. makan bersama. mendengarkan musik bersama. bernyanyi bersama. dan membaca bersama. melihat lukisan bersama, walau mereka belum pernah melukis bersama. mereka selalu melukis di tempat terpisah. mereka melukis masing-masing. kemarin mereka mulai tidur bersama. kadang hampir setiap hari.

hingga suatu hari Antiokhia berhenti datang bulan. dia bercerita pada Angin. lalu Angin bilang dia akan memeliharanya. pergilah Antiokhia ke toko. membeli alat tes kehamilan. menggunakannya dan melihat tanda itu. dua garis merah. positif. lalu Antiokhia mengambil telepon genggamnya dan mengirim pesan elektronik pada Angin.

Antiokhia: aku datang bulan. akhirnya. hore!
Angin: bagus. :)
-end of message-

esok harinya saat seorang teman datang berkunjung ke tempat tinggal Antiokhia...

Kala: mengapa kamu berbohong?
Antiokhia: belum saatnya.
Kala: ya, tapi apa yang kamu tunggu?
Antiokhia: aku akan bertanya dulu. dia mencintaiku atau tidak.
Kala: apa artinya? anaknya sudah dalam rahimmu!
Antiokhia: jangan katakan ini tidak ada artinya. jika Angin tidak mencintaiku, ada perbedaan besar dan aku akan mengambil keputusan yang tepat.

hari-hari terus berjalan. seiring dengan gejolak hormon seorang perempuan yang sedang mengandung, Antiokhia mulai sering mengajak Angin bertengkar. terutama tentang hal-hal yang tidak ada artinya. hingga satu hari pertanyaan besar itu dilontarkan, dan Angin pun menjawab.

"aku sudah mati rasa. aku sudah mati rasa"

hari itu juga, Antiokhia pergi ke suatu tempat bernama Ufuk Barat. sebuah tempat dimana mereka membunuh dan membuang bayi-bayi seperti sampah. namun di sana, semua harus dipesan terlebih dahulu. dan karena antrian telah terlalu panjang, maka giliran Antiokhia adalah 35 hari lagi. begitu banyak pesanan di sana. begitu banyak orang yang tidak menginginkan anak mereka.

kemudian Antiokhia menunggu. menunggu selama 35 hari. menunggu dalam hening tanpa pernah memberi tahu Angin. atau siapa pun selain Kala. menunggu hingga sang anak genap berusia 25+35=60 hari.

hari itu pun datang. namun saat itu Antiokhia harus bekerja. maka ia akan datang ke Ufuk Barat sore hari sepulang kerja. saat jam pulang kerja tiba, Antiokhia merasakan ada duri yang menusuk kepalanya. membatalkan semuanya, Antiokhia pun pulang ke tempat tinggalnya. ke tempat tidurnya. 5 jam 21 menit lamanya dia tertidur.

7 hari kemudian sebuah bercak darah terlihat di tempat duduk sebuah taksi yang ditumpangi Antiokhia. dia mengelap bercak itu dengan kertas yang berisi hitungan harga susu kaleng untuk ibu mengandung. hari itu, sang anak pergi meninggalkan Antiokhia tanpa dia harus datang ke tempat mengerikan seperti Ufuk Barat. Antiokhia menangis dan berteriak selama 180 menit di dalam kamar mandi sambil melihat darah yang terus mengalir keluar.

setelah itu Antiokhia pulang ke rumahnya dan menceritakan semuanya pada sang ibu. menghabiskan 14 hari di sana dengan berbaring di atas tempat tidur.
tidur dan makan. tidur dan menangis. tidur dan makan lagi. dan menangis lagi.

hingga hari ini, Antiokhia tidak pernah lagi mencari Angin. atau memberi tahu apapun tentang seorang anak yang sempat ia namakan Lealta.

yang berarti kekuatan, kepercayaan dan hati yang teguh.

No comments: