...and there's nothing better than seeing all of those direction at the same time
January 30, 2011
Mesir Bergolak
angkat kepalan tanganmu tinggi-tinggi kawan, turunkan yang layak diturunkan dari bangku kebesarannya!
January 26, 2011
big D for DEADLINE
tomorrow is my deadline for New Slang cover. and i haven't done anything. what a fuckin' mess. just humor me, i'm way crazier this time. haha.
January 25, 2011
this morning my friend kidnapped me. she just bought a huge espresso machine and she didn't know how to use it nor to make a cup of coffee. so there i was. training her about the 18-23 seconds timer for coffee shots, explaining the good shot and the bad one as well. how to steam the milk with a sexy foam, how to set the temperature, how to differentiate between a cappucino and a latte. the first one goes with a lot of foam with less milk, while the second one is the other way around. how to calibrate the espresso machine, how to make some ristretto shots, how to blend it systematically with milk, syrup or sugar, how to put all the ingredients flawlessly, not to mention how to taste and compare a good quality coffee, and the list go on and on.
and these are our morning revolver. coffee, anyone??
and these are our morning revolver. coffee, anyone??
January 23, 2011


it was Iskandar's birthday. he's an Autis Asperges and he was my favorite student. no matter how much he threw lots of toys to me or no matter how hard i tried to understand what he was talking about, i loved him with all my heart. but on his birthday, he got a little moody because i can't stand beside him to sing the happy birthday song. his mom asked me to took all the pictures with her camera so Iskandar went angry. he won't even smile. but he laughed out loud when i accidentally fell down in front of our classroom door for stepping on some cake dropped out from Dominga's plastic plate (she was ony 3). hahaha happy birthday, dear. i miss you.

diam-diam setiap hari saya menulis semua yang kita lakukan di dalam buku ini. mulai dari seberapa sering kita tertawa, bertengkar, berdebat, berdiskusi, lalu bahkan saat kita hanya diam saja dan saling memperhatikan. hari ini, saya tidak punya lagi alasan untuk terus mengisi halaman-halaman tersebut. kamu dan saya telah masing-masing memalingkan wajah untuk melihat ke arah lain. semuanya sudah selesai dan saya sedang bersiap-siap memulai segala sesuatu yang baru. mati rasakah saya? tidak. saya memang merasa begitu sakit atas apa yang telah terjadi. tetapi saya memilih untuk tetap membuka mata lalu berdiri maju. masa lalu adalah masa lalu. tidak dapat ditukar atau digantikan. dan saya tidak hidup di sana. saya di sini. di pintu hari depan. mengetuk-ngetuk agar sang waktu mempersilakan saya masuk dan duduk menikmati kebahagiaan meninggalkan hari-hari yang telah lalu. jika kamu bertanya-tanya mengapa akhirnya saya yang kekanak-kanakan ini kemudian bisa melepaskanmu, jawabannya hanya satu kalimat.
"saya berhenti menyalahkan diri sendiri dan bertumbuh lebih tinggi daripada hari kemarin"
January 20, 2011
unnoticed
i saw him accidentally last night, when he went out from the hospital. i was sitting with a book on my lap but i couldn't stop staring around every time there was a guy walking to the parking lot. and then, i saw him. the ghost of my past. he was as handsome as he always have been. walking with his bright eyes and then he bowed his head down. staring at the asphalt, as if he was wondering what's buried underneath. his shining Doc Mart boots stepped boldly and the sound of it was like a de javu to my ear. and yes, his gesture was as impeccable as i remember the last time we met on his birthday. he looked even more stunning from a distance that i couldn't see any reason why i shouldn't fall for him all over again. i was trying to called out his name, but it felt like if someone just turned my always-loud-clear voice into a mute mode. so i just stared at him. my heart was pounding with a speed of a black stallion racing through the wind. after a year, i finally saw the ghost again. he used to be my consistent fear and he apparently still is. he's dangerously beautiful. poisonous. and if there's no cure for it, i would rather staying as sick as people would think i am such a mental person.
and you, yeah you. the ghost with hazel eyes, i would really love to see you in unnoticed way like what happened last night. i really do.
and you, yeah you. the ghost with hazel eyes, i would really love to see you in unnoticed way like what happened last night. i really do.
January 19, 2011
i'm a "what if'er"
what if i see you today?
what if i don't?
what if i want you to know how much i try not to explain my aches?
what if we fall again?
what if, what if.....
what if i don't?
what if i want you to know how much i try not to explain my aches?
what if we fall again?
what if, what if.....
mad mad thursday
it's thursday and i skipped my classes to join the Bible Study. i have no idea what am i doing, but i hope it better be good, haha.
January 16, 2011
a preview of the ghost
when was the last time i really put myself of trying so hard not to kick your ass? oh, it was last year. gees, few things just don't change. we just give them some new different names for the same thing and just exactly when we think that it's over, those certain intuition that send a chill to our spines started to whisper in our ears "i am here. again. can you feel me? my name is The Ghost of The Past."
i am writing this with an immature decomposition and it's not as disposable as it seems. if only i could just press Ctrl-Alt-Del in an instant way, wow..now that would be better than facing myself every morning in the miror, feeling sorry for what had happened to us. i used to said that i will forget you and that was two years ago. this is the new year and yes, i don't feel any different as well as you did. and our last night phone call was nothing but fear to me.
i am writing this with an immature decomposition and it's not as disposable as it seems. if only i could just press Ctrl-Alt-Del in an instant way, wow..now that would be better than facing myself every morning in the miror, feeling sorry for what had happened to us. i used to said that i will forget you and that was two years ago. this is the new year and yes, i don't feel any different as well as you did. and our last night phone call was nothing but fear to me.
January 13, 2011
Saya Tidur
Saya tidur. Sengaja tidur selama 16 jam. Menaruh kepala secara terus-menerus dalam keadaan terlelap, oh semoga ini merusak tiap syaraf neuron di dalam kepala. Setidaknya semoga dapat menidurkan efek ledakan kembang api yang akhir-akhir ini selalu merayapi otak setiap dia berdiri di dekat saya. Berbicara pada saya. Menatap saya atau apapun itu.
126 jam tanpa menghubunginya lewat sebuah teknologi telekomunikasi bernama telepon. Saya akan terbiasa. Mudah-mudahan. Dengan tidak mendengar suaranya yang hanya akan membujuk saya untuk berharap terlalu banyak di suatu sore di pertengahan April setahun yang lalu. Akan terbiasa. Akan. Akan. Semoga.
Saya ikut Misa Kudus. Menekuk kedua kaki di depan altar. Memohon agar saya diijinkan terjatuh di mana pun dengan posisi kepala terbentur, lupa ingatan dan berhenti memikirkannya.
Kemudian saya memasak selama 6 jam. Berenang di terik siang. Berlari sejauh 3 kilo. Berusaha untuk kelelahan secara luar biasa hanya agar saya memiliki sesuatu yang baru sebagai konsentrasi, yaitu rasa letih, bukan senyumnya.
Kadang saya berhenti bersuara. Tidak berbicara pada siapapun. 17 jam. 2 hari.
5 hari. Lalu jadi 1 minggu 3 hari. Berharap dengan menjadi bisu maka pita suara saya tidak akan berfungsi lagi dengan baik. Sehingga saya dapat berhenti berkata betapa saya semakin menginginkannya setiap saat langit terlihat berputar karena rotasi.
126 jam tanpa menghubunginya lewat sebuah teknologi telekomunikasi bernama telepon. Saya akan terbiasa. Mudah-mudahan. Dengan tidak mendengar suaranya yang hanya akan membujuk saya untuk berharap terlalu banyak di suatu sore di pertengahan April setahun yang lalu. Akan terbiasa. Akan. Akan. Semoga.
Saya ikut Misa Kudus. Menekuk kedua kaki di depan altar. Memohon agar saya diijinkan terjatuh di mana pun dengan posisi kepala terbentur, lupa ingatan dan berhenti memikirkannya.
Kemudian saya memasak selama 6 jam. Berenang di terik siang. Berlari sejauh 3 kilo. Berusaha untuk kelelahan secara luar biasa hanya agar saya memiliki sesuatu yang baru sebagai konsentrasi, yaitu rasa letih, bukan senyumnya.
Kadang saya berhenti bersuara. Tidak berbicara pada siapapun. 17 jam. 2 hari.
5 hari. Lalu jadi 1 minggu 3 hari. Berharap dengan menjadi bisu maka pita suara saya tidak akan berfungsi lagi dengan baik. Sehingga saya dapat berhenti berkata betapa saya semakin menginginkannya setiap saat langit terlihat berputar karena rotasi.

Demi bukan untuk apapun, kita adalah kita. Tetap satu pada gravitasinya masing-masing. Dan lukamu itu, bukan cuma bercak. bukan robekan dan memar. Lukamu yang tak pernah kulihat. Tak satu senti pun aku mengenalinya. Aku hanya tahu kau terus memelihara luka. Yang telah mengering bersama ragu tapi masih terus berdenyut-denyut hingga kadang kau terhisap ke dalamnya.
Namun demi bukan untuk apapun…..aku rela menukar lukamu dengan uap-uap nafasku. Berhentilah merasa sesak. Karena aku punya udara. Aku punya harapan. Aku punya perban untuk lukamu. Menjahitnya dengan benang keyakinan dan jarum hari esok, lalu mari biarkan waktu yang meringankan perihnya. Mungkin aku tak punya semua yang kau inginkan. Tetapi aku akan terus bersamamu. Berjalan di sampingmu. Saat yang lain pergi, aku akan tetap tinggal. Saat mereka berpaling, aku akan masih memandangmu.
Ini bukan persuasi. Karena aku menginginkanmu tanpa apapun yang mereka sebut syarat atau bahkan situasi. Tanpa tanya. Tanpa aksi dan reaksi. Tanpa ekspektasi. Aku menginginkanmu hidup dengan segenap kebebasanmu. Karena aku tak pernah ingin mengikatmu dengan sistem kepemilikan yang mengatasnamakan “cinta.” Bukankah cinta itu seharusnya membebaskan ?
Denyut hatiku, berhentilah merasa sesak. Keluar dan tinggalkan gelap itu. Aku disini. Menunggumu dengan adiksi dari waktu ke waktu untuk terus bersamamu.
January 12, 2011
selamat hari rabu, hey Plaza Senayan!
*siang: berjalan-jalan melihat etalase yang menampilkan manekin-manekin dengan bandrol harga.
*siang menjelang sore: masih berjalan-jalan (mulai agak bosan, lemes, lapar)
*1 jam setelah menjelang sore: mampir ke MOS Burger (kalap di kasir pesan ini-itu)
*beberapa menit setelah pergi dari kasir: duduk terburu-buru, celingak-celinguk tunggu pesanan, menarik napas tiap 5 menit karena pesanan tidak juga datang & mulai cemberut.
*15 menit kemudian saat pesanan datang: melotot pada waiter sambil bilang "udah kan?", memasukkan burger langsung ke dalam mulut (yang ternyata masih panas banget, lalu berakhir dengan berpura-pura tidak kepanasan & mulai mengunyah dengan normal walau sebenarnya si lidah ngilu).
*2 jam setelah selesai makan, pura-pura baca majalah, curi-curi pandang dengan seseorang di meja seberang yang cukup tampan: saya meninggalkan resto sambil jalan kaki. dan karena Tuhan tahu betapa membosankannya hari ini untuk saya, He spared me. accidentally saya bertemu orang-orang yang seharusnya meeting dengan saya hari ini. cuma satu kata. HORE!
*siang menjelang sore: masih berjalan-jalan (mulai agak bosan, lemes, lapar)
*1 jam setelah menjelang sore: mampir ke MOS Burger (kalap di kasir pesan ini-itu)
*beberapa menit setelah pergi dari kasir: duduk terburu-buru, celingak-celinguk tunggu pesanan, menarik napas tiap 5 menit karena pesanan tidak juga datang & mulai cemberut.
*15 menit kemudian saat pesanan datang: melotot pada waiter sambil bilang "udah kan?", memasukkan burger langsung ke dalam mulut (yang ternyata masih panas banget, lalu berakhir dengan berpura-pura tidak kepanasan & mulai mengunyah dengan normal walau sebenarnya si lidah ngilu).
*2 jam setelah selesai makan, pura-pura baca majalah, curi-curi pandang dengan seseorang di meja seberang yang cukup tampan: saya meninggalkan resto sambil jalan kaki. dan karena Tuhan tahu betapa membosankannya hari ini untuk saya, He spared me. accidentally saya bertemu orang-orang yang seharusnya meeting dengan saya hari ini. cuma satu kata. HORE!
January 05, 2011
seandainya Alexander Graham Bell tidak menciptakan telepon
demi tuhan yang ada di atas tempat tidur, saya hanya ingin bersenang-senang, bukan terhisap ke dalam ekstase emosi. kamu dan segala yang kita lalui terlalu dini untuk dipertahankan. tetapi juga terlalu berat untuk disia-siakan. saya ingin membuang telepon saya ke tempat sampah jika itu memang bisa membebaskan saya dari alat picu tak terlihat yang berkali-kali menyuruh saya untuk mencarimu selama dua hari terakhir ini.
saya lelah dan ingin satu malam saja meletakkan kepala saya di atas bantal tanpa harus bertanya pada diri sendiri "apa yang sebenarnya terjadi di antara saya dan kamu, dan mengapa kita tidak menyadarinya? bukankah seharusnya kita tidak menanam apapun yang akhirnya bisa membuat kita kebingungan?"
saya lelah dan ingin satu malam saja meletakkan kepala saya di atas bantal tanpa harus bertanya pada diri sendiri "apa yang sebenarnya terjadi di antara saya dan kamu, dan mengapa kita tidak menyadarinya? bukankah seharusnya kita tidak menanam apapun yang akhirnya bisa membuat kita kebingungan?"
Subscribe to:
Posts (Atom)

















