
Demi bukan untuk apapun, kita adalah kita. Tetap satu pada gravitasinya masing-masing. Dan lukamu itu, bukan cuma bercak. bukan robekan dan memar. Lukamu yang tak pernah kulihat. Tak satu senti pun aku mengenalinya. Aku hanya tahu kau terus memelihara luka. Yang telah mengering bersama ragu tapi masih terus berdenyut-denyut hingga kadang kau terhisap ke dalamnya.
Namun demi bukan untuk apapun…..aku rela menukar lukamu dengan uap-uap nafasku. Berhentilah merasa sesak. Karena aku punya udara. Aku punya harapan. Aku punya perban untuk lukamu. Menjahitnya dengan benang keyakinan dan jarum hari esok, lalu mari biarkan waktu yang meringankan perihnya. Mungkin aku tak punya semua yang kau inginkan. Tetapi aku akan terus bersamamu. Berjalan di sampingmu. Saat yang lain pergi, aku akan tetap tinggal. Saat mereka berpaling, aku akan masih memandangmu.
Ini bukan persuasi. Karena aku menginginkanmu tanpa apapun yang mereka sebut syarat atau bahkan situasi. Tanpa tanya. Tanpa aksi dan reaksi. Tanpa ekspektasi. Aku menginginkanmu hidup dengan segenap kebebasanmu. Karena aku tak pernah ingin mengikatmu dengan sistem kepemilikan yang mengatasnamakan “cinta.” Bukankah cinta itu seharusnya membebaskan ?
Denyut hatiku, berhentilah merasa sesak. Keluar dan tinggalkan gelap itu. Aku disini. Menunggumu dengan adiksi dari waktu ke waktu untuk terus bersamamu.
No comments:
Post a Comment