January 13, 2011

Saya Tidur

Saya tidur. Sengaja tidur selama 16 jam. Menaruh kepala secara terus-menerus dalam keadaan terlelap, oh semoga ini merusak tiap syaraf neuron di dalam kepala. Setidaknya semoga dapat menidurkan efek ledakan kembang api yang akhir-akhir ini selalu merayapi otak setiap dia berdiri di dekat saya. Berbicara pada saya. Menatap saya atau apapun itu.


126 jam tanpa menghubunginya lewat sebuah teknologi telekomunikasi bernama telepon. Saya akan terbiasa. Mudah-mudahan. Dengan tidak mendengar suaranya yang hanya akan membujuk saya untuk berharap terlalu banyak di suatu sore di pertengahan April setahun yang lalu. Akan terbiasa. Akan. Akan. Semoga.


Saya ikut Misa Kudus. Menekuk kedua kaki di depan altar. Memohon agar saya diijinkan terjatuh di mana pun dengan posisi kepala terbentur, lupa ingatan dan berhenti memikirkannya.


Kemudian saya memasak selama 6 jam. Berenang di terik siang. Berlari sejauh 3 kilo. Berusaha untuk kelelahan secara luar biasa hanya agar saya memiliki sesuatu yang baru sebagai konsentrasi, yaitu rasa letih, bukan senyumnya.


Kadang saya berhenti bersuara. Tidak berbicara pada siapapun. 17 jam. 2 hari.
5 hari. Lalu jadi 1 minggu 3 hari. Berharap dengan menjadi bisu maka pita suara saya tidak akan berfungsi lagi dengan baik. Sehingga saya dapat berhenti berkata betapa saya semakin menginginkannya setiap saat langit terlihat berputar karena rotasi.

No comments: