bekerja sebagai asisten dokter hewan di sebuah animal shelter membuat saya semakin sadar betapa sakitnya masyarakat kita.
setiap hari ada saja anjing yg datang ke shelter kami di-rescue dari pemiliknya atau orang-orang yg menganggap anjing adalah binatang haram. is that all you've got? HARAM? apa tidak ada alasan lain yg lebih bisa diterima oleh rasio? mengapa tidak dengan jujur mengakui bahwa kalian punya tendensi untuk bersikap liar dan menyiksa?
kemudian jawaban itu datang sendiri. sejumlah kucing dihantar seseorang yg menyaksikan tetangganya mematahkan kaki si kucing, memotong kaki depannya, juga sebagian mencongkel keluar matanya.
rupanya anjing hanyalah pembenaran agamis. haram katanya. lalu haramkah kucing? bukankah jika kita telah terbiasa dengan kekerasan biasanya kita akan memperlakukan semuanya dengan taraf yg setara, yaitu dengan sama kerasnya? lihat saja Kebun Binatang Surabaya yg menelantarkan hewan-hewannya sejak 2008. kematian penghuni kebun binatang pun akibat alasan yg memalukan, malnutrisi. luar biasa, saudara-saudara.
menurut dokter pemilik shelter, masyarakat kita telah terbiasa dengan kekerasan. dimulai dari kecil saat mereka menyaksikan kurban sembelihan pada hari raya kurban. seharusnya binatang-binatang tersebut tidak disembelih di depan anak-anak. sehingga sejak kecil nilai-nilai kekerasan telah terinternalisasi pada diri kita.
seolah-olah itu bukanlah hal yg mengganggu atau merusak. tapi kita telah terbiasa dan kemudian dianggap sebagai hal yg biasa-biasa saja.
jadi, hewan apa saja yg sudah kamu siksa hari ini?
No comments:
Post a Comment