February 08, 2011

SELAMAT. ANDA ADALAH PEMASOK DANA TERORISME INTERNASIONAL.

hari ini saya berdebat keras dengan seseorang. Kami berdebat tentang revolusi. Tentang betapa dia ikut mencoblos PEMILU hanya untuk formalitas. Tentang betapa sia-sianya saya berteriak jika tidak ada hasilnya. Hasil? Itukah yang menjadi ketakutanmu yang paling besar? Apakah kamu salah satu dari mereka yang tidak punya nyali untuk berjuang hanya karena takut akan hasil akhir? Jika ya, maka kamu adalah pecundang yang layak malu akan semua sampah wejangan politik yang baru saja kamu keluarkan dari mulutmu yang besar itu.

Mencoblos semua (atau mencoret-coret) gambar calon anggota wakil rakyat sama saja bodohnya dengan masuk ke dalam bilik PEMILU dan memilih satu wakil rakyat. Apa sih yang ingin kamu buktikan dengan berlaku seperti itu? Hanya sejauh itukah perjuanganmu? Apakah hanya ingin dibilang KEREN? Apa kamu pikir jadi seorang revolusioner hanya untuk keren-kerenan seorang remaja yang sedang mencari jati diri? Apa kamu pikir pilihanmu akan didengar? Butuh berapa ratus tahun lagi untuk menyadarkanmu bahwa pemerintah tidak akan pernah benar-benar mendengarkan suara kita yang dianggap bau tengik ini? Butuh penindasan seperti apa lagi untuk menyadarkanmu bahwa negara ini hanya dagelan belaka dengan humor murahan ala komedi di kotak televisi yang kita tonton tiap malam? Butuh berapa lama lagi? Butuh berapa nyawa lagi yang melayang oleh pihak militer di daerah konflik dan daerah pelosok yang beranak-anak dengan perut besar kekurangan gizi?

Apakah kamu lupa bahwa "memilih untuk tidak memilih wakil rakyat" merupakan pilihan juga?

Dan mari bicarakan soal sesuatu yang ada kaitannya dengan aktivitas mabuk-mabukan generasi muda hari ini. Seperti ditunjukkan Chossudovsky dalam bukunya War and Globalization, The Truth behind September 11 (2003) sejarah perdagangan narkoba di Asia Tengah sangat erat berkaitan dengan operasi tertutup CIA. Sebelum berkecamuknya perang Soviet-Afghan, produksi opium di Afghanistan dan Pakistan hanya terdistribusi dalam pasar regional kecil.

Tidak ada produksi heroin lokal sebelumnya. CIA tidak hanya mendorong kalangan pemimpin lokal untuk memaksa petani untuk menanam opium tetapi juga sekaligus membangun sekitar sebelas unit produksi heroin di kawasan tersebut.

Dalam waktu dua tahun operasi CIA di Afghanistan, “Perbatasan Pakistan-Afghanistan menjadi produser top dunia, menyuplai 60 persen kebutuhan AS. Di Pakistan, penduduk yang kecanduan heroin melonjak dari hampir nol pada 1979 mencapai 1.2 juta pada 1985 – lonjakan luar biasa dibanding negara manapun.”

CIA juga mengontrol perdagangan heroin ini. Begitu gerilyawan Mujahidin menguasai kawasan di Afghanistan, mereka mengharuskan para petani membayar semacam pajak revolusi dari tanaman opium tersebut. Di sepanjang perbatasan di Pakistan, kalangan pimpinan Afghan dan sindikat lokal di bawah perlindungan Intelijen Pakistan (ISI) mengoperasikan ratusan laboratorium heroin.

Selama dekade perdagangan narkoba yang terbuka luas ini, Drug Enforcement Agency Amerika di Islamabad gagal melakukan penangkapan atau penahanan besar. Pejabat AS menolak menginvestigasi tuduhan perdagangan heroin oleh aliansi Afghan-nya dengan alasan ‘karena kebijakan narkotik AS di Afghanistan tersubordinasi perang melawan pengaruh Soviet di sana’.

Pada 1995, mantan direktur CIA untuk operasi Afghan, Charles Cogan, mengakui bahwa CIA memang telah mengorbankan perang narkoba demi Perang Dingin.

Sikap sinikal CIA ditunjukkan jelas dari pernyataan terus terang Cogan. “Misi utama kami adalah melakukan pengrusakan sebesar mungkin pada Uni Soviet. Kami tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk mengadakan investigasi perdagangan narkoba. Saya kira tidak perlu kami meminta maaf atas hal ini. Setiap situasi selalu mengandung kekurangan … Kekurangan kami kali ini dalam segi narkoba. Tetapi tujuan utama sudah terlaksana. Soviet meninggalkan Afghanistan”. Akhir dari kehadiran Soviet di Afghanistan tidak berarti terjadi pengendoran atas produksi dan perdagangan ini, sebaliknya malah semakin meningkat tajam.

Dengan pecahnya Uni Soviet, peningkatan baru produksi opium terjadi. Menurut estimasi PBB, produksi opium di Afghanistan pada 1998-99 – bertepatan dengan terjadinya pergolakan bersenjata di bekas negara Uni Soviet – mencapai rekor tertinggi, 4600 metrik ton). Sindikat bisnis yang kuat di bekas Uni Soviet beraliansi dengan organisasi kriminal berkompetisi untuk menguasai kontrol strategis rute heroin.

Dengan demikian, kawasan Asia Tengah tidak hanya strategis karena cadangan minyaknya yang besar, tetapi juga karena menjadi tempat produksi tiga perempat opium dunia dengan nilai milyaran dolar AS bagi kalangan sindikat bisnis, institusi keuangan, agen-agen intelijen dan organisasi kriminal seperti terorisme. Hasil tahunan dari perdagangan narkoba Golden Crescent menguasai sekitar sepertiga penghasilan tahunan narkotik dunia.

Orang yang berdebat dengan saya hari ini adalah anak kecil kemarin sore yang bahkan tidak pernah membaca koran, menyaksikan berita atau bahkan punya kepekaan untuk mengedukasi dirinya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki konsep di dalam kepalanya bisa begitu kerasnya berdebat? Saya rasa yang berbicara serta berteriak hanya ego kelaki-lakiannya yang tidak ingin disalahkan atau dituduh betapa minimnya volume pengetahuan yang ada di dalam otaknya. Dia juga seorang mantan pecandu narkotika selama bertahun-tahun hanya atas nama sebuah pembenaran yang berbunyi "SAYA BERASAL DARI KELUARGA YANG TIDAK BAHAGIA". for fuck sake, inilah orang yang terus menyalahkan orang lain atas semua jalan yang sebenarnya dia pilih sendiri. Mungkin kamu bertanya-tanya berapa usianya? Bertanya-tanya tentang rentang kedewasaannya? Kecerdasan persepsinya sama dengan seorang anak remaja pemarah yang labil dan berusia 15 tahun? Haha, eat me. He will be 25 this Feb.

Anak muda, kamulah pemasok dana terorisme internasional. Dalam negara ini, bentuk skala kecilnya adalah kamu memasok aktivitas transportasi FPI dalam melakukan kerusuhan dimana-mana. Rantai yang telah ada sejak lama ini seharusnya kamu cari tahu dengan kepalamu, bukan dengan kepalan tanganmu atau nyanyian mabukmu. Isi otakmu mungkin hanya berisi mimpi-mimpi meniduri bintang film porno, mabuk setiap hari, memiliki lusinan sneaker atau boots agar dikategorikan mengikuti 5 huruf busuk yang bernama TREND, dan berganti-ganti merk motor agar kamu dapat dipuji oleh teman-temanmu serta makin giat mengotori udara yang seharusnya secara legal merupakan hak BERSAMA, bukan INDIVIDU. Bukankah keinginan manusia yang paling bodoh adalah INGIN DILIHAT dan INGIN DIPERHITUNGKAN melalui benda-benda yang dimilikinya?

Anak muda, korporasi bermain-main dengan rasa percaya dirimu agar kamu terus mengeluarkan uangmu untuk membeli produk-produk mereka. Sadarkan kamu bahwa kamu bukan lagi manusia? Kamu memompa rasa percaya dirimu melalui semua barang yang kamu beli dengan harapan kamu akan merasa lebih baik dari hari kemarin. Dan kini kamu ingin berbicara keras-keras kepada saya soal apa yang terbaik bagi rakyat? Luar biasa, anak muda. Mereka tidak melakukan apapun bagi rakyat memang punya tendensi serta nyali untuk meninggikan volume suaranya jauh lebih keras dari mereka yang memang berjuang agar negeri ini bisa melawan sang negara.

No comments: