bangun dengan kantuk yang menggelantung membuat saya pening. delapan belas menit lamanya saya bertanya-tanya. mengapa saya jenuh? saya merasa diperbudak serta memberhalakan suara dering sebuah media komunikasi audio bernama telepon seluler.
sebagai contoh yang cukup memalukan: lima jam tanpa short message service saja dapat membuat saya ingin membenturkan kepala ke dinding. baik itu dinding kamar mandi (karena saya senang membawa telepon seluler saat mandi), dinding kamar tidur (diletakkan tepat di bawah bantal, yang jika berbunyi tentunya membuat saya bangun sambil menggerutu tapi sedikit ceria karena ada telepon atau sms walau isinya kurang penting), dinding dapur (sambil masak juga keren buat ditenteng-tenteng). satu hari saja tidak menerima panggilan masuk dapat membuat saya merasa tidak diinginkan.
penuh keserakahan untuk diperhatikan saya terus mengisi pulsa. hingga hari ini. saya tahu saya jenuh. saya bukan saja tahu, tapi juga sadar dan harus melakukan sesuatu. saya jemu menunggu pesan elektronik serta panggilan masuk. saya menjalani hidup bukan lagi dengan harapan, melainkan dengan ekspektasi. keduanya berbeda. harapan adalah energi berpikir yang membantu kita melihat segalanya dengan secara positif. sedangkan ekspektasi merupakan polutan dari obsesi yang terkontaminasi oleh tuntutan, yang akhirnya selalu berskala berlebihan serta meninggalkan pedih serta depresi jika tidak tercapai.
saya kini bukan lagi si pemilik telepon. karena benda itulah yang kemudian memiliki saya. ia mulai mempengaruhi saya. mengatur bagaimana saya berpikir, berperilaku serta yang paling buruk.... menjadi kompas atas perasaan saya.
kemudian memperbudak saya untuk terus mengkonsumsi saat nominal pulsa berada pada angka di bawah satu. nol rupiah.
saya ketergantungan. sakit. ini memang jadi penyakit. dan semoga tidak menular lalu jadi wabah. atau jadi polemik. ah gawat.
omong-omong, tahukah kalian bahwa tarif komunikasi telepon di Indonesia berada di peringkat pertama termahal di seluruh dunia?
namun bukan itu alasan saya berhenti menggunakan telepon seluler. toh saya bukan orang yang memiliki kuasa dan kapasitas untuk mensabotase media komunikasi nasional. saya hanya muak dengan diri sendiri. saya jenuh terpenjara oleh ekspektasi berlebihan yang akhirnya mengantar jemput saya pada kamar kesepian.
saya benci kamar itu. dindingnya, lantainya, apalagi udaranya.
menyesakkan. bernafas seakan-akan sesuatu yang baru karena paru-paru saya mengkerut. kemudian saya malah tersedak saat oksigen mulai memasuki arteri dan aorta saya lagi.
ah, betapa saya telah dipecundangi oleh teknologi serta seperangkat elektronik yang merupakan benda mati. seharusnya hanya sayalah yang berhak untuk memutuskan bagaimana saya merasakan sesuatu, berpikir dan memiliki persepsi terhadap apapun yang saya hadapi. bukan teknologi. bukan nokia. bukan provider seluler milik bakrie. saya bosan merasa dimiliki oleh telepon saya. dengan menguasai mood serta perasaan saya melalui pesan elektro dan panggilan yang masuk, ia menunjukkan pengaruhnya. saat kita dikuasai sesuatu, saat itulah kita diambil alih untuk dimiliki olehnya.
aduh, inikah makna hidup saya? apakah isi hidup seseorang diukur dari jumlah pesan-pesan elektro serta panggilan yang ada di telepon selulernya? karena jika ya, betapa dangkal serta menyedihkannya hidup ini dan seharusnya kita semua bunuh diri saja.
terbukti setelah saya berhenti menggunakan telepon seluler, hidup saya tidak berantakan. jadwal keseharian saya masih seperti biasanya. saya bahkan jadi lebih tepat waktu dan lebih teliti. saya juga tidak lagi merasa kesepian seperti sebelumnya. karena dengan tidak memiliki, saya mulai lupa akan rasanya kehilangan. saya merasa lebih santai (karena tidak lagi dirasuki ekspektasi), lebih bebas serta tidak ada lagi penantian kurang ajar yang biasanya bisa begitu kurang ajarnya mengacak-acak mood saya. mengisi pulsa yang sebelumnya seperti deadline keseharian. entah itu atas nama pergaulan, nama baik, gaya hidup atau bahkan sekedar pengusir rasa sunyi. haha semua sudah lewat.
betapa memprihatinkannya saya sebagai manusia. ciptaan yang paling sempurna namun ternyata memiliki rasa takut yang lebih besar dari hewan. manusia dengan membuat berbagai media komunikasi serta menggunakan semuanya pada saat yang bersamaan telah menunjukkan penolakan yang begitu kuat terhadap isolasi serta kesepian. betapa kita semua begitu takut akan keduanya yang seakan-akan dapat membuat kita merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan serta mengobrak-abrik rasa percaya diri kita.
saya mengambil keputusan ini sebagai terapi. saya tahu saya sakit. gejalanya tiap 15 menit saya menatap layar telepon dengan nanar. "aduh kok ga ada yg sms ya? yang telepon juga ADA banget"
lagipula CDMA 1265 saya itu sering heng. atau hang. ah memang seharusnya dia dapat hukuman gantung diri aja karena sangat menyulitkan jika sedang heng. jadi sebelum dia benar-benar hang secara permanen, ada baiknya dia saya pecat serta saya pensiunkan.
dasar hengpon.
saya begitu ketergantungan dengan memberhalakan telepon seluler. beberapa teknologi itu baik adanya dan seharusnya digunakan sesuai kadar yang masih menyehatkan. seharusnya hidup saya penuh. padat oleh penguluran tangan kepada mereka yang membutuhkan, sesak oleh tawa dan momentum-momentum organik bukan mekanik. seharusnya hidup saya berisi pembelajaran serta introspeksi.
bukan cuma "YA AMPUN, KOK GUE GAK DI TELEPON? SMS APALAGI..."
No comments:
Post a Comment